Rabu, 05 Oktober 2016

Teater tradisional rakyat adalah bentuk-bentuk teater tradisional yang hidup, tumbuh, dan berkembang pada lingkungan masyarakat banyak sesuai dengan lingkup budaya setempat. Bentuk teater tradisi rakyat ini ada yang berasal dari tradisi religi asli dan ada pula yang berasal dari sistem religi Hindu-Budha dan Islam. 

            Bentuk teater dari sistem religi Hindu-Budha serta sistem religi Islam dapat diduga berasal dari pengaruh budaya keraton yang menyebar di kalangan masyarakat. Hal ini disebabkan bahwa sistem religi Hindu-Budha berkembang dan bersumber dari kehidupan keraton.

Meskipun bentuk-bentuk teater tradisi rakyat ini berasal dari sistem religi tertentu, fungsi pokok dari teater ini telah berubah ke bentuk hiburan yang ditonton secara gratis oleh masyarakat. Pementasan teater tradisi rakyat ini dilakukan pada acara-acara tertentu seperti pernikahan, kelahiran, khitanan, ruwatan, dan kegiatan lainnya yang dianggap memiliki hubungan dengan sistem religi.

Para pemain serta pendukung teater tradisi rakyat ini pada umumnya adalah masyarakat biasa dan tidak berprofesi sebagai pemain sandiwara. Para pemain ini bermain berdasarkan tradisi pementasan yang telah dikenal secara luas di masyarakatnya.

Unsur teater rakyat yang paling utama adalah cerita, pelaku, dan penonton. Cerita yang disajikan dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai dengan respons dan suasana penonton yang terjadi pada saat pementasan. Cerita dibawakan dengan akting (oemeranan) atau dengan menari dan nyanyian. Kostum para pelaku disesuaikan dengan kondisi budaya masing-masing daerah serta zaman yang berkembang pada saat itu.






Teater tutur “Cepung” yang ada di Nusa tenggara Barat
Kesenian ini merupakan seni vokal  tradisional daerah Lombok. alat yang digunakan sangat terbatas, hanya diiringi dua alat musik yaitu seruling dan redep. Dengan keterbatasan alat musik yang digunakan maka para pemain mengatasinya dengan cara menirukan bunyi gendang, kenceng, rincik. Para pemain selain bertugas membuat bunyi-bunyian yang menyerupai alat musik tertentu juga  sebagai pembawa syair atau pantun secara bersaut- sautan.
Jumlah pemain cepung ini 6 orang  yang bertugas sebagai pembaca lontar yang merupakan sumber cerita dan syair cepung itu sendiri. Pembacaan dilakukan bergantian  setiap kali pergantian babak permainan ( merupakan pendahulu gending baru), dua orang sebagai pemain alat musik dan tiga orang sebagai pembawa musik vokal yang dilakukan sambil menari dengan gaya yang lucu sesuai dengan syair dan gending  yang dibawakan dan ketiga pembawa musik  vokal tersebut dalam keadaaan duduk.
Kesenian ini merupakan perkembangan dari “pepaosan-pepaosan” , cerita yang diambil dalam seni cepung ini khusus dari Pepaosan Cerita klasik”Monyat”. Cerita klasik Monyet sangat terkenal di Lombok, dikarang dalam bentuk pantun (seloka) dalam bahasa sasak oleh Jero Mihran pada tahun 1859. Seluruhnya terdiri dari 671 bait, dibawakan dengan tembang Sinom, Semarandana, Kumambang, Durma, Dang-dang dan Pangkur.
Dinamakan ‘Cepung’ mungkin karena diiringi suara ‘gamelan mulut’ yang iramanya berbunyi “cek-cek-cek-cek-pung”. Cepung pada dasarnya adalah seni membaca kitab lontar, khususnya cerita Monyeh, yang diiringi instrumen seruling, redeb, dan ‘gamelan mulut’ (vokal). Lontar Monyeh ditulis oleh Jero Mahram pada tahun 1859, berisi filsafat Islam dengan tujuan pengembangan agama. Pemainnya paling sedikit enam orang, terdiri atas seorang pembaca lontar, seorang pemain redeb, seorang pemain seruling, dan tiga orang penembang. Mereka duduk dalam bentuk setengah lingkaran. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Sasak dan terjadi kontak aktif selama pertunjukan dengan penonton. Pertunjukan ini juga memakai sesajian.


Masyarakat etnis Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, sudah akrab dengan kesenian Cepung. Apalagi kesenian Cepung lahir, tumbuh, dan berkembang di tanah Lombok. Naskah Lontar Monyeh, sumber cerita seni teater tutur itu, ada yang beraksara Sasak Jejawan (turunan Hanacaraka) berbahasa Sasak, Bali, dan Jawa. Lontar gubahan Mamik Mihram itu kemudian dibawa dan dipelajari seniman Bali, hingga melahirkan kesenian tersebut.

Popularitas kesenian Cepung tidak bisa dilepaskan dari peran Lalu Ambare alias Mamik Ambar yang sekarang berusia 90 tahun. Warga Jalan Jaya Sena, Mayura, Cakranegara, Mataram, Nusa Tenggara Barat, itu selama tujuh dekade telah menekuni teater tutur ini.

Ambar, panggilannya, ngamen di berbagai tempat, dari pentas resmi sampai ke berbagai pelosok desa guna meramaikan acara pernikahan, khitanan, dan hajatan lainnya.
seolah mewakili liku-liku kesahajaan hidup seniman tradisi. Demi mempertahankan kesenian Cepung, dia rela berjalan kaki sampai separuh hari, menuju tempatnya berpentas. ”Itu perkara biasa,” ujarnya.

Sering kali pula Ambar menginap semalam di rumah kenalannya yang berdekatan dengan tempat dia akan manggung. Ia kemudian baru melanjutkan perjalanan esok harinya. Itu bukan soal bagi Ambar. Demi sampai ke tujuan, ibaratnya berenang menyeberangi sungai yang airnya melimpah saat musim hujan pun akan dia lakoni.

Penatnya dalam perjalanan itu terbayar dengan kemeriahan sambutan khalayak penonton. Apalagi Ambar pun memiliki kemampuan menghibur. Aksi panggung Ambar, antara lain, menirukan suara gamelan dengan mulut disertai gerakan tubuh dan mimik yang bisa membuat penontonnya terhibur.
Awak kesenian Cepung ini meliputi pemain suling, redep (rebab dalam gambang kromong, Betawi), pemakhitanaos (pembaca naskah lontar), penyokong (pendukung), dan punggawa (penerjemah).




Dalam seni teater tutur ini, Ambar bertugas sebagai pemakhitanaos. Selain membaca naskah cerita, dia juga sering kali ikut menjadi penyokong.

Ambar menembang bersahut-sahutan dengan personel lainnya. Mereka menirukan lirik lagu dengan bunyi instrumen gamelan memakai mulutnya. Di sini ada fonem dang, ding, dung, diucapkan pada akhir kata. Misalnya dalam kata doang (berarti hanya), fonemnya menjadi dung.

Trio maestro (grup)
Kesenian Cepung menjadi ”hidup” di tangan Ambar dan dua rekannya, almarhum Ketut Bagiada (penerjemah) dan almarhum Ridin (pemain redep). Tak heran kalangan seniman menyebut mereka sebagai Trio Maestro Cepung. Meskipun terkadang ada pemain lain yang membantu mereka saat berpentas, trio ini tetap tidak terpisahkan.

”Ya, kami sudah spel (kompak),” kata Ambar memberi alasan sambil meringis.
”Sudah dua bulan saya cuma duduk dan tidur, dari sini ke sini saja. Saya merasa lemas,” kata dia sambil menunjuk bagian paha dan kakinya yang terserang stroke sejak akhir 2005. Sebelumnya Ambar menjalani operasi hernia atas biaya pemerintah lewat fasilitas jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas).
Secara fisik, Ambar tampak lemah. Dia berbaring dalam ruangan berdinding gedek seluas sekitar 2,5 meter x 4 meter. Dipannya berkasur lusuh. Untuk makan dan minum, harus ada orang yang menyuapi dia. Shalat dan berwudu pun dilakukan Ambar di kamarnya.

Rumah di atas tanah 1 are (100 meter persegi) yang ditempati Ambar bersama anak tertua, menantu, dan cucu-cucunya itu adalah pemberian warga. Penerangan di rumahnya berasal dari listrik tetangganya. Seluruh biaya hidup Ambar ditanggung dua anak dan cucu-cucunya. Adapun cicitnya bertugas melayani keperluan makan-minumnya. Kedua istri Ambar sudah meninggal.

Namun, energi Ambar muncul seketika saat berbicara tentang Cepung. Suaranya yang semula lirih berubah lantang, posisi duduknya menjadi tegak. Ia pun bisa bercanda, dan memelesetkan namanya menjadi Ngambar (berkeliling), atau keluyuran menghibur masyarakat.

Sejurus kemudian Ambar nembang, istilah dalam seni membaca naskah lontar. Ia mengutip prolog naskah Lontar Monyeh dalam bahasa Sasak.
”Tabik pade warga sanak, wayah, mamik, bini-laki, te coba ngarang, penyelemor ngantih nasi…. porok sang ne inik isi ate jari oat bingung, sak ngadu kesemelan, apek diri jeneng ririh, mule tetentu sa ngadu lelakon doang.” Artinya, tabik saudaraku, bapak-ibu, saya belajar mengarang (lagu) sambil menunggu nasi (matang), iseng-iseng sebagai pelipur hati yang bingung, saya mungkin ceroboh tetapi sejatinya ini semua sekadar cerita.

Lontar Monyeh mengisahkan seorang putri raja yang disisihkan delapan saudaranya. Bahkan, ia diusir oleh sang ayah dari istana karena fitnah saudara-saudaranya. Sang putri lalu melukis wajah dan sketsa nasib yang menimpanya. Hasil gambarnya itu diterbangkan angin, dan jatuh di istana kerajaan tetangga.

Putra kerajaan tetangga yang menemukan gambar itu lalu menyamar menjadi monyet (monyeh). Sang pangeran kemudian menemui dan menemani sang putri dalam pengembaraan. Sampai suatu saat sang putra raja mengubah diri menjadi manusia. Keduanya pun menikah dan hidup bahagia.

Kekhawatiran seniman tua akan punahnya seni bertutur khas suku Sasak, Lombok, Nusatenggara Barat, atau cepung sedikit terobati. Enam seniman muda menggelar pementasan cepung di Taman Budaya NTB, Mataram, baru-baru ini. Diharapkan, pementasan ini dapat terus melestarikan seni cepung di tengah modernisasi yang kian pesat.
Belakangan ini jumlah seniman cepung di Pulau Lombok memang terus berkurang. Apalagi masyarakat di pedesaan kian tak berminat lagi menyaksikan kesenian cepung karena lebih memilih siaran televisi. Padahal cepung digemari wisatawan asing yang mengunjungi Pulau Lombok.
Cepung mulai dikenal saat pemerintahan Raja Anak Agung Ngurah sekitar 1800-an. Seni bertutur khas suku Sasak itu adalah teater yang semula diciptakan seorang rakyat biasa bernama Cepung. Tujuannya untuk menghibur para pekerja istana kerajaan yang tengah beristirahat. Cepung biasanya berisi berbagai nasihat serta ajakan beribadah yang dikemas dengan cerita jenaka. Pementasan cepung juga diselingi iringan musik dari mulut dan gerakan tangan.